Kamis, Juni 12, 2008

Sikap Mental Bangsa

Selama ini, ketika dihadapkan pada suatu permasalahan, reaksi yang paling sering muncul adalah sikap saling menyalahkan. Celakanya, sudah menjadi sikap dasar manusia tidak mau disalahkan. Lingkaran setan ”lempar kentang panas” pun dimulai dan tak pernah berakhir. Tak ada yang bercermin pada diri sendiri. Tak ada yang mau mengkaji lebih dalam, bagaimana diri sendiri secara individu mampu mengambil peran untuk membuat keadaan menjadi lebih baik. Sangat sedikit ada yang mau berpikir dengan melihat lebih jauh ke dalam diri sendiri, apa yang sebenarnya menjadi causa prima dari segala permasalahan yang kita hadapi saat ini.

Merunut ke belakang, permasalahan yang melanda Indonesia sebenarnya sudah mengakar dan mendarah daging jauh sebelum krisis melanda pada tahun 1997. Ketenangan dan kedamaian yang dinikmati pada masa pemerintahan Soeharto ternyata semu. Rakyat dimanjakan dengan iklim yang tenang dan damai tetapi keropos. Salah satu dampak ”kenyamanan semu” itu adalah rakyat menjadi malas, manja, jauh dari sikap mandiri. Lalu, jadilah kita bangsa yang rentan terhadap masalah. Pengetahuan sebagai bekal kemampuan untuk menjadi problem solver yang minim, semakin diperburuk oleh sikap mental yang selalu ingin lari dari permasalahan. Semakin banyak remaja yang terjebak narkoba adalah salah satu contoh nyata.

Mengandalkan diri sendiri untuk maju dan berkembang, adalah sikap mental yang masih belum dimiliki oleh sebagian besar rakyat Indonesia. Kebanyakan dari kita masih mengandalkan dipimpin oleh orang lain. Diberi tahu, diajarkan, disuapi, sehingga terlena dalam situasi nyaman. Padahal, setiap orang memiliki kemampuan untuk menjadi pemimpin. Pemimpin bagi dirinya sendiri.

Hal mendasar yang menjadi permasalahan bangsa Indonesia adalah sikap mental yang picik dan tidak mandiri. Jauh dari semangat dan menghargai sebuah proses. Semua ingin diselesaikan dengan cara instan. Padahal, perubahan mendasar hanyalah bisa dicapai dengan cara bertahap. Tahap pertama, mulailah menjadikan diri sendiri sebagai agen dari perubahan. Terlalu banyak orang yang sibuk ingin mengubah dunia, tetapi lupa bagaimana mengubah diri sendiri.

Kualitas individu menentukan kualitas sosial. Kualitas sosial berarti kualitas masyarakat yang lebih baik. Ketika penguasa negara harus regenarisasi, akan tampillah para penguasa yang arif dan bijaksana, yang didukung oleh sistem sosial yang sudah dewasa dengan disertai sikap mental individu yang bermoral.

Cara ini mungkin sepintas menjadi solusi yang membutuhkan waktu yang lama. Tapi sikap mental bukanlah masalah sehari dua hari atau setahun dua tahun. Sikap mental adalah masalah kebiasaan. Dibutuhkan waktu agar meresap dan menjadi bagian dari karakter kita.

Pengalaman bangsa-bangsa maju saat ini, mungkin dapat kita cermati. Jepang, hancur luluh lantak karena bom Nagasaki dan Hiroshima. Kini, Jepang menjadi salah satu negara maju yang sangat diperhitungkan oleh dunia internasional. Tidak tertarikkah kita untuk belajar dari mereka? Salah satu contoh nyata yang ditunjukkan oleh Jepang dalam mengubah situasi ”kalah” menjadi ”menang” adalah sikap kerja keras yang dilandasi oleh visi dan tujuan yang jelas.

Lalu, bagaimana dengan Indonesia? Bagaimana dengan kita? (Ivy Erli Desca, Membangun Indonesia Tahun 2006, Pikiran Rakyat 02/01/2006).